Nutrisi Jadi Kunci Masa Depan Anak, Studi Buktikan Stunting Bisa Turun 34,5 Persen

img

JAKARTA – Upaya mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045 tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur, pendidikan, atau teknologi. Fondasi utamanya justru dimulai dari hal yang paling mendasar, yakni memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan nutrisi yang cukup untuk tumbuh sehat dan optimal.

 

Tantangan itu masih besar. Berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Kalimantan Timur masih mencapai 22,2 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa masalah gizi anak masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan bersama.

 

Padahal, dampak malnutrisi tidak sekadar membuat anak bertubuh lebih pendek. Kondisi seperti stunting, wasting, dan underweight juga meningkatkan kerentanan terhadap berbagai penyakit infeksi yang dapat mengganggu tumbuh kembang hingga masa dewasa.

 

Harapan baru muncul dari hasil penelitian yang dipresentasikan dalam ajang bergengsi ISPOR Europe 2025 di Glasgow, Skotlandia. Penelitian bertajuk A Nutrient-Dense Formula in Undernourished Children in Indonesia: A Cost-Effective Strategy menemukan bahwa pemberian Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) atau Nutrient-Dense Formula (NDF) berpotensi menurunkan angka stunting hingga 34,5 persen.

 

Tak hanya itu, prevalensi wasting diperkirakan dapat ditekan hingga 72,7 persen, sementara underweight berkurang 51,7 persen.

 

Ketua Pharmacoepidemiology Research Group (PharmaEpid-RG) Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin, Muh. Akbar Bahar, menegaskan bahwa manfaat nutrisi yang tepat jauh lebih besar dibanding sekadar menambah berat badan anak.

 

“Ketika seorang anak mendapatkan nutrisi yang memadai, manfaat yang dihasilkan jauh melampaui peningkatan berat badan atau tinggi badan. Risiko infeksi menurun, kebutuhan berobat berkurang, dan kualitas hidup anak menjadi lebih baik,” ujarnya.

 

Menurut Akbar, jika intervensi nutrisi tersebut diterapkan secara luas, Indonesia berpotensi mencegah sekitar 1,6 juta kasus stunting, 1,2 juta kasus wasting, dan 1,9 juta kasus underweight pada anak-anak.

 

Manfaatnya bahkan meluas hingga sektor kesehatan. Anak dengan status gizi yang lebih baik memiliki risiko lebih rendah terkena berbagai penyakit infeksi.

 

Hasil penelitian menunjukkan kasus tuberkulosis (TB) berpotensi turun hingga 47,2 persen, sementara pneumonia dapat berkurang 44,7 persen. Selain itu, jutaan kasus ISPA dan diare juga diperkirakan dapat dicegah.

 

“Intervensi nutrisi bukan hanya soal makanan. Ini adalah investasi kesehatan masyarakat yang memberikan manfaat berlipat, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi,” tambah Akbar.

 

Dari sisi ekonomi, dampaknya tak kalah mencengangkan. Pengurangan kasus penyakit akibat perbaikan gizi diperkirakan mampu menghemat biaya pengobatan hingga Rp12 triliun lebih, mencakup penanganan TB, pneumonia, ISPA, dan diare.

 

Founder dan Chairman Health Collaborative Center (HCC), dr. Ray Wagiu Basrowi, menilai hasil penelitian tersebut menjadi bukti kuat bahwa kebijakan gizi harus menjadi prioritas pembangunan nasional.

 

“Intervensi nutrisi yang tepat tidak hanya mencegah dampak kesehatan akibat malnutrisi, tetapi juga mampu mengurangi beban biaya pengobatan di masa depan. Karena itu, kebijakan harus didukung bukti klinis dan ekonomi yang kuat agar tepat sasaran,” katanya.

 

Di tengah upaya percepatan penurunan stunting nasional, berbagai inovasi nutrisi dalam negeri mulai mengambil peran penting. Langkah ini dinilai menjadi bagian dari strategi besar membangun sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan produktif.

 

Pada akhirnya, cita-cita Indonesia Emas 2045 bukan hanya tentang bonus demografi. Lebih dari itu, tentang memastikan setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, dan meraih masa depan terbaiknya.

Karena investasi terbaik bagi sebuah bangsa sesungguhnya dimulai dari satu hal sederhana: memastikan tidak ada anak yang tumbuh dalam kekurangan gizi. (*/pk)